Barangkali setiap kita sudah tidak asing lagi dengan kata-kata sering terucap dan mudah diucapkan yaitu Tegar. Menurut yang saya pahami kata tegar saya artikan sebagai suatu tindakan pada kondisi tertentu yang mewajibkan seseorang tersebut bertahan dan sabar pada saat berada dalam kondisi itu sambil berupaya untuk melakukan suatu tindakan tertentu. Maksudnya adalah seseorang tersebut harus bisa bertahan dan bersabar pada setiap kondisi yang ada, manakala dihadapkan pada suatu keadaan tertentu dan dia pun bisa mengambil sikap. Sebagai contoh : ketika saudara-saudara kita mendapat musibah, misalnya gempa bumi yang memporak-pondakan rumahnya, menghilangkan nyawa orang-orang yang dicintai, maka sebagai seorang yang beriman maka dia harus bisa tegar di dalam menghadapi ujian yang diberikan kepadanya, dan tetap terus berusaha untuk memperbaiki keadaan dirinya. Demikian pula hal ini pun akan berlaku pula untuk kondisi lain yang semisalnya.

Akan tetapi, ketegaran ini ternyata cukup sulit juga untuk dipraktekkan dalam kehidupan kita, sudah banyak sering kita dengar entah lewat radio atau media massa yang laen, ada orang yang bunuh diri gara-gara dia tidak betah dalam kemiskinannya, ada juga orang yang nekad menggantung diri gara-gara putus cinta, atau ada juga orang yang mengalami depresi yang panjang dan butuh terapi. Nah kemudian, mengapa hal itu bisa terjadi?? Saya mengambil kesimpulan bahwa ketegaran ini mempunyai korelasi dengan keimanan. Ketika seseorang ini memilki keimanan yang kuat, maka ketika dia dihadapkan pada suatu kondisi yang sulit maka ia akan tetap berusaha tegar, dan bersabar dalam menghadapi kondisi itu sambil berusaha mencari solusi untuk mengatasi masalah yang dihadapinya tersebut. Namun sebaliknya, ketika seseorang itu tidak ada keimanan, atau imannya lemah maka ketika dia dihadapkan pada suatu kondisi yang sulit, maka dia biasanya tidak tegar, dan cenderung akan melakukan suatu tindakan yang menyimpang.

Saya sering mengamati tentang bagaimana perilaku orang-orang disekitar saya. Ketika saya berjalan-jalan keliling kota misalnya, saya dihadapkan pada kenyataan bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang bernasib kurang beruntung namun dia tidak berusaha untuk tegar. Betapa kita sering melihat di dalam bus-bus kota, ada serombongan anak-anak muda, yang masuk ke dalam bis kemudian dia sekedar berceloteh berbicara ‘ngalor-ngidul’ kemudian dia meminta-meminta uang kepada penumpang di dalam bus kota tersebut. Jika tidak diberi mereka terkadang memaksa dan kadang pula mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan kepada penumpang-penumpang di dalam bus kota. Padahal sebetulnya, kalo dia mau berusaha untuk mandiri, atau berusaha apa saja (asal halal) saya yakin dia bisa hidup mandiri dan tidak membebani orang lain. Fenomena yang cukup memprihatinkan ini, masih banyak terjadi hingga kini. Masih banyak pula fenomena-fenomena yang lain yang masih banyak sebetulnya untuk bisa diceritakan disini. Tapi saya ingin mengambil benang merahnya saja untuk menjadi bahan renungan bagi saya agar selalu bisa tegar dan bersabar di tengah kondisi yang ada. Apapun itu kondisinya, susah senang, bahagia, sedih ataupun lainnya berusahalah untuk tegar, dan bersabar sambil terus berusaha untuk melakukan suatu kebaikan.

Saya jadi teringat dengan seorang pemuda. Usianya masih muda mungkin sekitar 25 tahun-an, dan sudah menikah (saya tahu dia sudah menikah, soalnya sewaktu pulang dari ikut kajian ba’da maghrib di sebuah musholla kecil dekat stasiun kereta kemayoran saya melihat dia berjalan berdampingan dengan seorang akhwat bercadar dan berjalan dengan mesranya ). Dia sehari-harinya berjualan es susu kedelai. Dengan menaiki sepedanya dia menjajakan es-nya berkeliling dari kantor-kantor ke kantor atau keliling kompleks. Suatu ketika, saat istirahat siang, dia pun sholat duhur berjamaah di masjid kantor saya dan dia tinggalkan barang dagangannya dan sepedanya. Setelah selesai sholat dia pun kembali ke dagangannya dan menjajakannya. Kebetulan waktu itu saya sedang makan soto Surabaya dan sudah memesan es dawet ayu khas Banjarnegara. Saya iseng mengamati dia sambil makan. Menit-demi menit berlalu belum juga terlihat ada pembeli yang mendekat dan ingin membeli es susu kedelainya. Entah mengapa, saya jadi terus mengamatinya…begitu sabar sekali dia dalam menjajakan dagangannya. Tidak ada guratan kekecewaan diwajahnya dan dia pun tetap sabar menunggu dagangannya. Saya jadi berpikir, berapa uang yang bisa diperolehnya untuk sekedar menghidupi keluarganya. Apakah cukup untuk kehidupan sehari-hari mereka di Ibukota ini yang notabene apa-apa serba mahal. Hati ini jadi merasa ‘terenyuh’ dan jadi merasa ‘iba’ dengan kondisinya. Setelah selesai makan dengan temen, akhirnya salah satu temen saya membeli susu kedelainya. Senyum terlihat di wajahnya. Ternyata es susu kedelainya enak, kata temen saya. Kemudian kami pun balik lagi ke kantor untuk memulai aktivitas kerjaan setelah istirahat siang selesai. Saya sering berpikir, wah..ternyata masih ada juga ya orang-orang yang tegar dan sabar dalam menghadapi kehidupannya dengan ikhtiar yang dia lakukan. Saya akui, saya salut padanya, dalam usia yang masih muda, dia berani mengambil keputusan menikah, meski dengan kondisi ekonomi yang terbatas. Kemudian, dia orangnya juga rajin menuntut ilmu agama, sering mengikuti Kajian Ilmiah di beberapa tempat (saya tahu, karena beberapa waktu sering melihatnya ada di majelis ilmu tersebut), dan lagi dia berusaha istiqomah dalam mengamalkan sunnah dan keislaman di keluarganya, pribadinya ramah dan sopan, dan penampilannya khas yaitu celana panjang diatas mata kaki).

Berbicara tentang ketegaran dan kesabaran memang memiliki dimensi yang sangat luas. Dengan pengalaman ini paling tidak cukup untuk mengingatkan saya agar selalu berusaha untuk tegar dalam kondisi apapun yang dihadapi, tegar dan sabar dalam mengarungi kehidupan ini, berusaha untuk menjadi lebih baik, semangat untuk menuntut ilmu agama dan istiqomah didalam beriman dan berislam.

Kamar Kos, 2 Nopember 2009 Jam : 2.25 WIB